iklan

SISWASISWI.ID, BELITUNG TIMUR – Ternyata Angka Putus Sekolah atau Drop Out (DO) Siswa Siswi SMP sederajat, di Kabupaten Belitung Timur, terbilang cukup tinggi.

Pasalnya, jika bibandingkan dengan tahun 2017 lalu, angka putus sekolah di tahun 2018 ini meningkat, meski jumlahnya tidak terlalu signifikan.
         
Dalam hal ini,Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim, Partono, menyatakan bahwa angka siswa DO Tahun 2018 lalu mencapai sekitar 153 orang siswa. Angka ini jadi meningkat 4 persen, jika dibanding Tahun 2017 lalu, yang hanya mencapai 147 orang.

“Data itu per Oktober 2018. Untuk tahun 2019 ini, baru akan kita ambil setelah bulan Juli, kalau semua siswa sudah tetap bersekolah,” ungkap Partono, saat ditemui Diskominfo Beltim, di ruang kerjanya Jum’at (29/3/1) lalu.

Adapun mayoritas penyebab siswa SMP putus sekolah adalah karena faktor sosial, yakni akibat pergaulan lingkungan dan kenakalan remaja.

Namun menurut Partono, yang mendasari semua itu lebih karena kurangnya perhatian keluarg, akibat rumah tangga yang sudah berantakan.

“Kalau bahasa kita umumnya, karena keluarganya broken home atau permasalahan rumah tangga orangtuanya. Kenakalan itukan sumbernya dari keluarga, ini terjadi hampir di seluruh satuan pendidikan, meski faktor lainnya tetap ada,” jelas Partono.

Sedangkan untuk penyebab dari faktor ekonomi, Partono menyebut sangat kecil sekali, bahkan hampir tidak ada.

Hal ini lantaran biaya sekolah di Kabupaten Beltim sangat terjangkau.

“Kalau masalah ekonomi sangat sedikit. Sepanjang siswa mau bersekolah, masalah tidak mampu bayar uang sekolah, ternyata bisa diatasi lewat berbagai program bantuan khusus untuk keluarga kurang mampu,” beber Partono.  
         
Salahsatu cara menekan tingginya angka putus sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim menghimbau, agar Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Wali Kelas siswa yang terindikasi akan DO, untuk lebih intens melakukan pendampingan.

“Di sinilah peran utama guru BK, melakukan pendampingan, sehingga bukan hanya terhenti di sekolah saja, namun dapat juga ke lingkungan keluarganya. Wali kelas dan Guru BP, seharusnya sudah punya deteksi dini mengenai siswa yang teridikasi akan DO,” ucap Partono.

Selain itu, lanjut Partono, pihaknya dari Dinas Pendidikan Beltim, juga akan membentuk tim khusus untuk menanggulangi angka putus sekolah di Kabupaten Beltim ini. Tim tersebut, nantinya beranggotakan dari lintas sektor, serta pemerintah desa.

“Nanti kita libatkan dinas lain juga. Kita berharap dengan adanya tim ini akan menekan angka putus sekolah untuk siswa SMP ataupun SD di Kabupaten Beltim ini,” tukasnya.
         
Saat ini, di Kabupaten Beltim terdiri dari 25 SMP/MTS sederajat, dimana jumlah siswa siswi mencapai 5.743 orang. (*/salis)          

iklan

Post not found !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>